PEMBELAJARAN BERDIFERENSIASI


 

PEMBELAJARAN BERDIFERENSIASI 


Sumber: Max Fischer (pexels.com)


v   Materi Pokok:

1.        Definisi Pembelajaran Berdiferensiasi

2.        Unsur-Unsur Pembelajaran Berdiferensiasi

3.        Teori Pemberalajaran Berdiferensiasi

4.        Contoh Keragaman Pembelajaran Berdiferensiasi

v   Definisi Pembelajaran Berdiferensiasi

Pembelajaran berdiferensiasi merupakan suatu usaha atau proses untuk menyesuaikan sistem pembelajaran di kelas dengan kebutuhan belajar dan kemampuan setiap murid yang berbeda-beda. Dalam prinsip pembelajaran diferensiasi setiap murid memiliki keunikan dan kemampuannya, serta cara yang berbeda-berbeda dalam memahami suatu ilmu atau materi pelajaran. Jadi, Pembelajaran berdiferensiasi merupakan serangkaian kegiatan berupa keputusan yang sesuai akal pikiran (common sense) yang disusun oleh guru dalam rangka melaksanakan pembelajaran yang berpihak pada murid, dan berorientasi pada kebutuhan belajar murid. Keputusan tersebut berkaitan dengan hal-hal berikut yaitu: cara menciptakan lingkungan berlajar murid, mendefinisikan tujuan pembelajaran, proses penilaian berkelanjutan sehingga tercipta kelas efektif (Fitra, 2022).

Pembelajaran berdiferensiasi bukanlah pembelajaran yang diindividualkan.  Namun, lebih cenderung kepada pembelajaran yang mengakomodir kekuatan dan kebutuhan belajar siswa dengan strategi pembelajaran yang independen. Dalam pembelajaran berdiferensiasi guru dituntut untuk memahami siswa secara terus menerus, membangun kesadaran tentang kekuatan dan kelemahan murid, mengamati, menilai kesiapan, minat, dan preferensi belajarnya. Selain itu guru juga harus menggunakan semua preferensi tentang bagaimana siswa mendemonstrasikan preferensi belajarnya (terkait isi, proses, produk dan lingkungan belajar). Sehingga ketika guru terus belajar tentang keberagaman potensi muridnya, maka pembelajaran yang profesional, efesien, dan efektif akan terwujud (Herwina, 2021).

Pembelajaran berdiferensiasi itu bukanlah guru yang mengajar 32 murid dengan 32 cara berbeda, atau guru yang memberikan banyak soal untuk murid yang lebih cepat dibandingkan yang lain. Bukan pula guru yang mengelompokkan murid yang pemahaman kurang dengan kurang dan yang pintar dengan yang pintar, atau guru yang memberikan perbedaan tugas bagi setiap murid yang ada di kelas, sehingga proses pembelajaran menjadi semrawut (chaotic). Bukanlah guru yang harus membuat beberapa perencanaan pembelajaran sekaligus pada suatu pembelajaran, dimana guru harus berlari dan sekaligus bersamaan membantu murid A, B atau C. Jadi, Pembelajaran berdiferensiasi tidak mempersulit guru dan murid, melainkan mempermudah guru dan murid dalam melaksanakan proses belajar dan mengajar (Tomlinson dalam Fitra, 2022).

 

v   Unsur-Unsur Pembelajaran Berdiferensiasi

 



1.             Isi/konten

Isi meliputi apa yang dipelajari siswa yaitu berkaitan dengan materi pembelajaran. Pada aspek ini, guru memodifikasi kurikulum dan materi pembelajaran berdasarkan gaya belajar siswa.

2.             Proses

Bagaimana siswa berinteraksi dengan materi dan bagaimana interaksi tersebut menjadi bagian yang menentukan pilihan belajar siswa. Karena banyaknya perbedaan gaya dan pilihan belajar yang ditunjukkan siswa, maka kelas harus dimodifikasi sedemikian rupa agar kebutuhan belajar yang berbeda-beda dapat diakomodir dengan baik.

Gregory & Chapman (2002) menyatakan proses pembelajaran yang dimodifikasi tersebut adalah:

a.              Mengaktifkan pembelajaran. Aktivitas belajar difokuskan pada materi yang  dipelajari, menghubungkan materi yang belum dikuasai, memberi kesempatan pada siswa untuk mencari mengapa materi yang dipelajari penting, dan menjelaskan apa yang dilakukan siswa setelah belajar.

b.             Kegiatan belajar. Melibatkan kegiatan pembelajaran yang sebenarnya, seperti pemodelan, latihan, demonstrasi, atau game pendidikan.

c.              Kegiatan pengelompokkan. Baik kegiatan belajar individu maupun kelompok harus direncanakan sebagai bagian dari proses pembelajaran.

3.             Produk

Produk pembelajaran memungkinkan guru menilai materi yang telah dikuasai siswa dan memberikan materi berikutnya. Gaya belajar siswa juga menentukan hasil belajar seperti apa yang akan ditunjukkan pada guru.

4.             Lingkungan belajar

Suprayogi (2022) menyatakan bhawa lingkungan belajar adalah suatu kondisi, pengaruh, serta rangsangan yang berasal dari luar yang memberi pengaruh pada peserta didik, dimana hal-hal tersebut juga meliputi beberapa hal seperti fisik, sosial, dan intelektual (Suprayogi,2022)

 

v   Teori pendukung Pembelajaran Berdirensiasi

Pernyataan Ki Hajar Dewantara tentang guru:

“Serupa seperti para pengukir yang memiliki pengetahuan mendalam tentang keadaan kayu, jenis-jenisnya, keindahan ukiran, dan cara-cara mengukirnya. Seperti itulah seorang guru seharusnya memiliki pengetahuan mendalam tentang seni mendidik, Bedanya, Guru mengukir manusia yang memiliki hidup lahir dan batin.”

“Peran Pendidik diibaratkan seorang Petani atau tukang kebun yang tugasnya adalah merawat sesuai kebutuhan dari tanaman-tanamannya itu agar tumbuh dan berbuah dengan baik, tentu saja beda jenis tanaman beda perlakuanya.”

Artinya bahwa kita seorang pendidik harus bisa melayani segala bentuk  kebutuhan metode belajar siswa yang berbeda-beda (berorientasi pada anak). Kita harus bisa memberikan kebebasan kepada anak untuk mengembangkan ide, berfikir kreatif, mengembangkan bakat/minat siswa (merdeka belajar), tapi kebebasan itu bukan berarti kebebasan mutlak, perlu  tuntunan dan arahan dari guru supaya anak tidak kehilangan arah dan membahayakan dirinya.

Teori yang melatar belakangi perlunya pembelajaran berdiferensiasi

1.             Teori sistem ekologi

Urine Bronfenbrenner:

“Teori sistem ekologi merupakan pandangan sosiokultural Bronfenbrenner tentang perkembangan yang terdiri dari lima sistem lingkungan. Mulai dari pengaruh interaksi langsung pada individu hingga pengaruh kebudayaan yang berbasis luas.”



Ilustrasi Teori Sistem Ekologi Bronfenbrenner

Sumber : https://id.scribd.com/document/508949858/teori-ekologi-bronfenbrenner

 

Lima sistem ekologi

  • Mikrosistem adalah kondisi yang melatarbelakangi anak hidup dan berinteraksi dengan orang lain dan institusi yang paling dekat dengan kehidupannya, seperti keluarga
  • Mesosistem adalah hubungan antara dalam mikrosistem, misalnya interaksi di ingkungan sekitar rumah seperti tetangga.
  • Ekosistem adalah hubungan pada lingkungan sekolah.
  • Makrosistem adalah sistem yang mengelilingi mikro, meso dan ekosistem dan merepresentasikan nilai-nilai ideologi, hukum masyarakat dan budaya politik.
  • Kronosistem adalah dimensi waktu yang menuntun perjalanan setiap level sistem dari mikro dan makro. Hubungan antara ruang dan waktu.

2.             Teori Multiple Intelligences (kecerdasan majemuk)

Howard Gardner (1993)

Gardner mendefinisikan intelegensi sebagai kemampuan untuk memecahkan persoalan dan menghasilkan produk dalam suatu setting yang bermacam-macam dan dalam situasi yang nyata. Pada teori multiple intelligences ini disebutkan ada delapan bentuk kecerdasan.




Ilustrasi Multiple Intelligences

Sumber: https://ilovemypsychologist.wixsite.com/ilmp/post/multiple-intelligencekecerdasan-majemuk

 

a.        Kecerdasan verbal-linguistik

Merupakan kemampuan berbahasa misalnya membaca, menulis, berbicara, memahami urutan dan makna dari katakata, serta menggunakan bahasa dengan benar.

b.        Kecerdasan logis-matematis

Merupakan kecerdasan dalam mengolah angka, matematika, dan logika untuk menemukan dan memahami berbagai pola, seperti pola pikir, pola visual, pola jumlah, atau pola warna.

c.         Kecerdasan spasial-visual

Merupakan kemampuan pada bidang ruang dan gambar. Individu memiliki kekuatan dalam imajinasi dan senang dengan bentuk, gambar, pola, desain, serta tekstur.

d.        Kecerdasan kinestetik-jasmani

Kemampuan dalam koordinasi anggota tubuh dan keseimbangan. Senang melakukan berbagai aktivitas fisik, seperti naik sepeda, menari, atau olahraga.

e.         Kecerdasan musical

Kemampuan memainkan alat musik atau mendengarkan lagu, serta mampu memahami dan membuat melodi, irama, nada, vibrasi, suara, dan ketukan menjadi sebuah musik.

f.          Kecerdasan intrapersonal

Merupakan kecerdasan introspektif di mana peserta didik mampu memahami diri sendiri, mengetahui kekuatan, kelemahan, dan motivasi diri.

g.        Kecerdasan interpersonal

Merupakan kemampuan untuk bermasyarakat serta memahami dan berinteraksi dengan orang lain.

h.        Kecerdasan naturalis

Merupakan kemampuan untuk mengenali dan mengkategorikan tanaman, hewan, dan benda-benda lain di alam, serta tertarik mempelajari spesies makhluk hidup.

 

3.             Teori Zone of Proximal Development (ZPD)

Zone of Proximal Development (ZPD) adalah zona antara tingkat perkembangan aktual dan tingkat perkembangan potensial. (Suprayogi et, al., 2022).

Pada teori ini terdapat dua level untuk ukuran kemampuan dan potensi peserta didik, yaitu:

a.         Tingkat perkembangan aktual dan tingkat perkembangan potensial, adalah ketika dia bekerja untuk menyelesaikan tugas atau soal secara mandiri..

b.        Tingkat perkembangan potensial, adalah tingkat dari kompetensi peserta didik yang dapat tercapai ketika dia dibantu oleh orang lain.

 

4.             Learning modalities

Perbedaan peserta didik dalam pembelajaran juga dapat dilihat dari learning modalities atau modalitas dalam belajar.

Macam-macam learning modalities:

a.        Visual

Menerima informasi lebih mudah melalui gambar. Otak memproses informasi visual dengan sangat efisien. Jauh lebih mudah untuk mengingat gambar yang jelas seperti foto daripada mengingat apa yang dikatakan atau ditulis seseorang.

b.        Auditori

Menerima informasi lebih mudah melalui mendengar. Siswa dengan mode ini biasanya sering mengajukan pertanyaan, dan menggunakan diskusi untuk mengklarifikasi atau menyerap materi. Ketika Anda berada dalam mode auditori, Anda mungkin berbicara dan membaca lebih lambat untuk menyerap semuanya.

c.         Kinestetik

Melakukan sesuatu dengan fisik, atau paling tepat digambarkan sebagai belajar sambil melakukan (learning by doing), baik sebagai aktivitas langsung atau melalui pengalaman, atau dengan bergerak sambil berpikir atau belajar.


v   Contoh Keragaman Pembelajaran Berdiferensiasi

Arif

Arif adalah seorang siswi SMA Negeri kelas 2. Ia terlahir dari keluarga berada dan berpendidikan. Ayahnya adalah keturunan Belanda sementara Ibunya adalah keturunan Indonesia asli. Ia adalah anak sulung dari 3 bersaudara.

Jika Arif berada di rumah, Ia mempunyai tanggung jawab untuk mengasuh kedua adiknya, yaitu kelas 2 SD dan kelas 4 SD. Setiap ke sekolah Ia di antar jemput oleh ayah/ibunya atau kadang pulang sendiri dengan menggunakan kendaraan aplikasi, dan ia merasa senang akan itu. Ia terbiasa bertemu dengan banyak orang, misalnya rekan bisnis ayah/ibunya, bertemu dengan teman dan guru les musiknya, sering pulang pergi Indonesia-Belanda untuk mengunjungi keluarga dari Ayahnya, dan masih banyak lagi yang memungkinkan Arif berinteraksi dengan banyak orang.

Walaupun berkecukupan, namun Ayah/Ibunya mengajarkan kemandirian sejak dini, sehingga ia terbiasa mandiri, misalnya saja ia terbiasa dengan pekerjaan rumah, seperti mencuci piring setelah makan, menyapu, dan mengepel kamarnya, sehingga Arif terbiasa dengan hidup bersih dan mandiri.

Sampai usia 17 tahun, Arif memiliki dwi kewarganegaraan yaitu Indonesia dan Belanda, dan setelah itu karena Ibu Arif keturunan Indonesia, maka Arif harus memilih kewarganegaraan, apakah Belanda atau Indonesia. Tentunya Arif memiliki pandangan terhadap budaya dan sosial yang berbeda, belum lagi ditambah dengan ideologi yang dianutnya dan juga hukum masyarakat, dan juga budaya politik yang berbeda pula. Itu terbentuk sejak ia lahir sampai seusianya.


Bagus

Bagus adalah seorang siswa kelas 2 SMA Negeri yang sekelas dengan Arif. Ia tergolong dari keluarga biasa saja. Ia adalah anak semata wayang. Ayah dan Ibunya keduanya berkebangsaan Indonesia bersuku madura dan jawa. Ada 2 sepupu yang ikut tinggal di rumahnya.

Sepulang sekolah Bagus membantu Ayah dan Ibunya yang bekerja mengelola sebuah toko sayur di pasar tradisional. Bagus banyak bertemu dengan banyak orang, seperti pembeli sayur langganannya, kuli panggul pasar, mitra ayah ibunya di pasar. Ayah dan ibu Bagus sibuk sekali dengan jualannya di pasar, apalagi jika menjelang Idul Fitri dan tahun baru, mereka sesekali mengantarkan sayuran untuk bapak dan ibu guru ke sekolah.

Sepulang sekolah Bagus terbiasa membantu ayah dan ibunya berjualan sayur di pasar. Keberadaannya di rumah hanya ada saat malam hari, yaitu sepulang dari lapak miliknya dan itupun terkadang ayah dan ibunya masih berada di lapak, ayah ibunya pulang ke rumah saat siang hari saja. Kondisi rumah yang kadang berantakan membuat ia lelah untuk meneruskan belajar. Dan baginya berantakan atau tidak sama saja, karena ia terbiasa melihat kehidupan pasar.

Pada rentang waktu yang cukup lama, kehidupan Bagus dan keluarganya, tentunya mempunyai pandangan tersendiri terhadap lingkungan, kehidupan sosial dan budaya dan sekitarnya. Sehingga membentuk pribadi diri Bagus.

Kaesang

Kaesang adalah seorang siswa SMA Negeri Kelas 2 yang merupakan teman sekelas Arif dan Bagus. Ia berasal dari keluarga yang sederhana dan berkecukupan. Ia adalah anak bungsu dari 2 bersaudara. Adiknya sedang bersekolah di SMP Negeri 1 di kotanya. Ayahnya bekerja sebagai pejabat pemerintah di kotanya dan ibunya adalah seorang Aparatur Sipil Negara di Sekolah dekat rumahnya. Ayah dan ibunya adalah keturunan Indonesia dan berasal dari suku Jawa.

Setiap hari Kaesang dan adiknya berangkat sekolah bersama Ayah dan Ibunya. Tetapi, pada saat pulang sekolah Kaesang Harus menjemput adiknya terlebih dahulu sebelum pulang ke rumah. Hal ini dikarenakan Ayah dan Ibu mereka pulang pada sore hari. Mereka hanya berkumpul bersama pada saat makan malam dan sarapan pagi. Hari sabtu dan minggu merupakan waktu yang rutin mereka gunakan untuk berkumpul bersama.

Hal tersebut membentuk Kaesang menjadi anak yang mandiri, bertanggung jawab dan menghargai waktu. Hari-hari yang dilalui oleh Kaesang membentuk karakter pada dirinya dan mempunyai pandangan tersendiri terhadap lingkungannya. Kehidupan sosial, budaya dan linkungan sekitarnya membentuk pribadi diri Kaesang.

Contoh kelas yang menerapkan pembelajaran berdiferensiasi adalah ketika proses pembelajaran guru menggunakan beragam cara agar murid dapat mengeksploitasi isi kurikulum, guru juga memberikan beragam kegiatan yang masuk akal sehingga murid dapat mengerti dan memiliki informasi atau ide, serta guru memberikan beragam pilihan di mana murid dapat mendemonstrasikan apa yang mereka pelajari. Contoh kelas yang belum menerapkan pembelajaran berdiferensiasi adalah guru lebih memaksakan kehendaknya sendiri. Guru tidak memahami minat, dan keinginan murid. Kebutuhan belajar murid tidak semuanya terenuhi karena ketika proses pembelajaran menggunakan satu cara yang menurut guru sudah baik, guru tidak memberikan beragam kegiatan dan beragam pilihan.

Pemetaan kebutuhan belajar merupakan kunci pokok kita untuk dapat menentukan langkah selanjutnya. Jika hasil pemetaan kita tidak akurat maka rencana pembelajaran dan tindakan yang kita buat dan lakukan akan menjadi kurang tepat. Untuk memetakan kebutuhan belajar murid kita juga memerlukan data yang akurat baik dari murid, orang tua/wali, maupub dari lingkungannya. Apalagi dimasa pandemi seperti ini, dimana murid melaksanakan PJJ sehingga interaksi secara langsung antara guru dengan murid sangat jarang. Akibatnya data yang kita kumpulkan untuk memetakan kebutuhan belajar murid sulit kita tentukan valid atau tidaknya. Dukungan dari orang tua dan murid untuk memberikan data yang lengkap dan benar sesuai kenyataan yang ada. Tidak ditambahi dan juga tidak dikurangi. Orang tua dan murid harus jujur ketika guru melakukan pemetaan kebutuhan belajar, baik elalui wawancara, angket, survey, dll.

Penerapan pembelajaran berdiferensiasi akan memberikan dampak bagi sekolah, kelas, dan terutama kepada murid. Setiap murid memiliki karakteristik yang berbeda-beda, tidak semua murid bisa kita beri perlakuan yang sama. Jika kita tidak memberikan pelayanan sesuai dengan kebutuhan murid maka hal tersebut dapat menghambat murid untuk bisa maju dan berkembang belajarnya. Dampak dari kelas yang menerapkan pembelajaran berdiferensiasi antara lain; setiap orang merasa disambut dengan baik, murid dengan berbagai karakteristik merasa dihargai, merasa aman, ada harapan bagi pertumbuhan, guru mengajar untuk mencapai kesuksesan, ada keadilan dalam bentuk nyata, guru dan murid berkolaborasi, kebutuhan belajar murid terfasilitasi dan terlayani dengan baik. Dari beberapa dampak tersebut diharapkan akan tercapai hasil belajar yang optimal.

Pembelajaran berdiferensiasi sangat berkaitan dengan filosofi pendidikan menurut Ki Hajar Dewantara, nilai dan peran guru penggerak, visi guru penggerak, serta budaya positif. Salah satu filosofi pendidkan menurut Ki Hajar Dewantara adalah sistem “among”, guru harus dapat menuntun murid untuk berkembang sesuai dengan kodratnya, hal ini sangat sesuai dengan pembelajaran berdiferensiasi. Salah satu nilai dan peran guru penggerak adalah menciptakan pembelajaran yang berpihak kepada murid, yaitu pembelajaran yang memerdekakan pemikiran dan potensi murid. Hal tersebut sejalan dengan pembelajaran berdiferensiasi. Salah satu visi guru penggerak adalah mewujudkan merdeka belajar dan profil pelajar pancasila, untuk mewujudkan visi tersebut salah satu caranya adalah dengan menerapkan pembelajaran berdiferensiasi. Budaya positif juga harus kita bangun agar dapat mendukung pembelajaran berdirensiasi. 

Daftar Pustaka

Fitra, D. K. (2022). Pembelajaran Berdiferensiasi dalam Perspektif Progresivisme pada Mata Pelajaran IPA. Jurnal Filsafat Indonesia, Vol 5 No 3, 250-258.

Herwina, W. (2021). Optimalisasi Kebutuhan Siswa dan Hasil Belajar dengan Pembelajaran Berdiferensiasi. Perspektif Ilmu Pendidikan, 175-182.

http://repository.unp.ac.id/23547/1/2019%20Buku%20Panduan%20Model%20Pembelajaran%20Berdiferensiasi%20di%20sekolah%20inklusif.pdf

 

 

 

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar