PEMBELAJARAN BERDIFERENSIASI
Sumber: Max Fischer
(pexels.com)
v Materi Pokok:
1.
Definisi Pembelajaran Berdiferensiasi
2.
Unsur-Unsur Pembelajaran Berdiferensiasi
3.
Teori Pemberalajaran Berdiferensiasi
4.
Contoh Keragaman Pembelajaran Berdiferensiasi
v Definisi Pembelajaran Berdiferensiasi
Pembelajaran berdiferensiasi
merupakan suatu usaha atau proses untuk menyesuaikan sistem pembelajaran di
kelas dengan kebutuhan belajar dan kemampuan setiap murid yang berbeda-beda.
Dalam prinsip pembelajaran diferensiasi setiap murid memiliki keunikan dan
kemampuannya, serta cara yang berbeda-berbeda dalam memahami suatu ilmu atau
materi pelajaran. Jadi, Pembelajaran berdiferensiasi merupakan serangkaian kegiatan
berupa keputusan yang sesuai akal pikiran (common sense) yang disusun
oleh guru dalam rangka melaksanakan pembelajaran yang berpihak pada murid, dan
berorientasi pada kebutuhan belajar murid. Keputusan tersebut berkaitan dengan
hal-hal berikut yaitu: cara menciptakan lingkungan berlajar murid,
mendefinisikan tujuan pembelajaran, proses penilaian berkelanjutan sehingga
tercipta kelas efektif
Pembelajaran berdiferensiasi
bukanlah pembelajaran yang diindividualkan.
Namun, lebih cenderung kepada pembelajaran yang mengakomodir kekuatan
dan kebutuhan belajar siswa dengan strategi pembelajaran yang independen. Dalam
pembelajaran berdiferensiasi guru dituntut untuk memahami siswa secara terus
menerus, membangun kesadaran tentang kekuatan dan kelemahan murid, mengamati,
menilai kesiapan, minat, dan preferensi belajarnya. Selain itu guru juga harus
menggunakan semua preferensi tentang bagaimana siswa mendemonstrasikan
preferensi belajarnya (terkait isi, proses, produk dan lingkungan belajar).
Sehingga ketika guru terus belajar tentang keberagaman potensi muridnya, maka
pembelajaran yang profesional, efesien, dan efektif akan terwujud
Pembelajaran berdiferensiasi itu bukanlah guru yang mengajar 32 murid dengan 32 cara berbeda, atau guru yang memberikan banyak soal untuk murid yang lebih cepat dibandingkan yang lain. Bukan pula guru yang mengelompokkan murid yang pemahaman kurang dengan kurang dan yang pintar dengan yang pintar, atau guru yang memberikan perbedaan tugas bagi setiap murid yang ada di kelas, sehingga proses pembelajaran menjadi semrawut (chaotic). Bukanlah guru yang harus membuat beberapa perencanaan pembelajaran sekaligus pada suatu pembelajaran, dimana guru harus berlari dan sekaligus bersamaan membantu murid A, B atau C. Jadi, Pembelajaran berdiferensiasi tidak mempersulit guru dan murid, melainkan mempermudah guru dan murid dalam melaksanakan proses belajar dan mengajar (Tomlinson dalam Fitra, 2022).
v Unsur-Unsur Pembelajaran Berdiferensiasi
1.
Isi/konten
Isi meliputi apa
yang dipelajari siswa yaitu berkaitan dengan materi pembelajaran. Pada aspek
ini, guru memodifikasi kurikulum dan materi pembelajaran berdasarkan gaya
belajar siswa.
2.
Proses
Bagaimana siswa
berinteraksi dengan materi dan bagaimana interaksi tersebut menjadi bagian yang
menentukan pilihan belajar siswa. Karena banyaknya perbedaan gaya dan pilihan
belajar yang ditunjukkan siswa, maka kelas harus dimodifikasi sedemikian rupa
agar kebutuhan belajar yang berbeda-beda dapat diakomodir dengan baik.
Gregory
& Chapman (2002) menyatakan proses pembelajaran yang dimodifikasi tersebut
adalah:
a.
Mengaktifkan
pembelajaran. Aktivitas belajar difokuskan pada materi yang dipelajari, menghubungkan materi yang belum
dikuasai, memberi kesempatan pada siswa untuk mencari mengapa materi yang
dipelajari penting, dan menjelaskan apa yang dilakukan siswa setelah belajar.
b.
Kegiatan belajar.
Melibatkan kegiatan pembelajaran yang sebenarnya, seperti pemodelan, latihan,
demonstrasi, atau game pendidikan.
c.
Kegiatan pengelompokkan.
Baik kegiatan belajar individu maupun kelompok harus direncanakan sebagai
bagian dari proses pembelajaran.
3.
Produk
Produk pembelajaran
memungkinkan guru menilai materi yang telah dikuasai siswa dan memberikan
materi berikutnya. Gaya belajar siswa juga menentukan hasil belajar seperti apa
yang akan ditunjukkan pada guru.
4.
Lingkungan
belajar
Suprayogi (2022) menyatakan bhawa lingkungan belajar adalah
suatu kondisi, pengaruh, serta rangsangan yang berasal dari luar yang memberi
pengaruh pada peserta didik, dimana hal-hal tersebut juga meliputi beberapa hal
seperti fisik, sosial, dan intelektual (Suprayogi,2022)
v Teori pendukung Pembelajaran Berdirensiasi
Pernyataan Ki Hajar Dewantara tentang guru:
“Serupa seperti
para pengukir yang memiliki pengetahuan mendalam tentang keadaan kayu,
jenis-jenisnya, keindahan ukiran, dan cara-cara mengukirnya. Seperti itulah
seorang guru seharusnya memiliki pengetahuan mendalam tentang seni mendidik,
Bedanya, Guru mengukir manusia yang memiliki hidup lahir dan batin.”
“Peran Pendidik
diibaratkan seorang Petani atau tukang kebun yang tugasnya adalah merawat
sesuai kebutuhan dari tanaman-tanamannya itu agar tumbuh dan berbuah dengan baik,
tentu saja beda jenis tanaman beda perlakuanya.”
Artinya bahwa kita seorang pendidik harus bisa melayani segala bentuk kebutuhan metode belajar siswa yang berbeda-beda (berorientasi pada anak). Kita harus bisa memberikan kebebasan kepada anak untuk mengembangkan ide, berfikir kreatif, mengembangkan bakat/minat siswa (merdeka belajar), tapi kebebasan itu bukan berarti kebebasan mutlak, perlu tuntunan dan arahan dari guru supaya anak tidak kehilangan arah dan membahayakan dirinya.
Teori yang melatar belakangi perlunya pembelajaran
berdiferensiasi
1.
Teori
sistem ekologi
Urine Bronfenbrenner:
“Teori sistem ekologi merupakan pandangan sosiokultural
Bronfenbrenner tentang perkembangan yang terdiri dari lima sistem lingkungan.
Mulai dari pengaruh interaksi langsung pada individu hingga pengaruh kebudayaan
yang berbasis luas.”
Ilustrasi
Teori Sistem Ekologi Bronfenbrenner
Sumber : https://id.scribd.com/document/508949858/teori-ekologi-bronfenbrenner
Lima sistem ekologi
- Mikrosistem adalah kondisi yang melatarbelakangi anak hidup dan berinteraksi dengan orang lain dan institusi yang paling dekat dengan kehidupannya, seperti keluarga
- Mesosistem adalah hubungan antara dalam mikrosistem, misalnya interaksi di ingkungan sekitar rumah seperti tetangga.
- Ekosistem adalah hubungan pada lingkungan sekolah.
- Makrosistem adalah sistem yang mengelilingi mikro, meso dan ekosistem dan merepresentasikan nilai-nilai ideologi, hukum masyarakat dan budaya politik.
- Kronosistem adalah dimensi waktu yang menuntun perjalanan setiap level sistem dari mikro dan makro. Hubungan antara ruang dan waktu.
2.
Teori Multiple Intelligences (kecerdasan majemuk)
Howard Gardner (1993)
Gardner
mendefinisikan intelegensi sebagai kemampuan untuk memecahkan persoalan dan
menghasilkan produk dalam suatu setting yang bermacam-macam dan dalam
situasi yang nyata. Pada teori multiple intelligences ini disebutkan ada
delapan bentuk kecerdasan.
Ilustrasi Multiple
Intelligences
Sumber:
https://ilovemypsychologist.wixsite.com/ilmp/post/multiple-intelligencekecerdasan-majemuk
a.
Kecerdasan
verbal-linguistik
Merupakan kemampuan
berbahasa misalnya membaca, menulis, berbicara, memahami urutan dan makna dari
katakata, serta menggunakan bahasa dengan benar.
b.
Kecerdasan
logis-matematis
Merupakan kecerdasan
dalam mengolah angka, matematika, dan logika untuk menemukan dan memahami
berbagai pola, seperti pola pikir, pola visual, pola jumlah, atau pola warna.
c.
Kecerdasan
spasial-visual
Merupakan kemampuan pada
bidang ruang dan gambar. Individu memiliki kekuatan dalam imajinasi dan senang
dengan bentuk, gambar, pola, desain, serta tekstur.
d.
Kecerdasan
kinestetik-jasmani
Kemampuan dalam koordinasi anggota tubuh dan keseimbangan. Senang
melakukan berbagai aktivitas fisik, seperti naik sepeda, menari, atau olahraga.
e.
Kecerdasan
musical
Kemampuan memainkan alat
musik atau mendengarkan lagu, serta mampu memahami dan membuat melodi, irama,
nada, vibrasi, suara, dan ketukan menjadi sebuah musik.
f.
Kecerdasan
intrapersonal
Merupakan kecerdasan
introspektif di mana peserta didik mampu memahami diri sendiri, mengetahui
kekuatan, kelemahan, dan motivasi diri.
g.
Kecerdasan
interpersonal
Merupakan kemampuan
untuk bermasyarakat serta memahami dan berinteraksi dengan orang lain.
h.
Kecerdasan
naturalis
Merupakan kemampuan
untuk mengenali dan mengkategorikan tanaman, hewan, dan benda-benda lain di
alam, serta tertarik mempelajari spesies makhluk hidup.
3.
Teori Zone of Proximal Development (ZPD)
Zone
of Proximal Development
(ZPD) adalah zona antara tingkat perkembangan aktual dan tingkat perkembangan
potensial. (Suprayogi et, al., 2022).
Pada
teori ini terdapat dua level untuk ukuran kemampuan dan potensi peserta didik,
yaitu:
a.
Tingkat
perkembangan aktual dan tingkat perkembangan potensial, adalah ketika dia
bekerja untuk menyelesaikan tugas atau soal secara mandiri..
b.
Tingkat
perkembangan potensial, adalah tingkat dari kompetensi peserta didik yang dapat
tercapai ketika dia dibantu oleh orang lain.
4.
Learning modalities
Perbedaan peserta didik dalam pembelajaran juga dapat dilihat dari learning
modalities atau modalitas dalam belajar.
Macam-macam learning modalities:
a.
Visual
Menerima
informasi lebih mudah melalui gambar. Otak memproses informasi visual dengan sangat
efisien. Jauh lebih mudah untuk mengingat gambar yang jelas seperti foto
daripada mengingat apa yang dikatakan atau ditulis seseorang.
b.
Auditori
Menerima
informasi lebih mudah melalui mendengar. Siswa dengan mode ini biasanya sering
mengajukan pertanyaan, dan menggunakan diskusi untuk mengklarifikasi atau
menyerap materi. Ketika Anda berada dalam mode auditori, Anda mungkin berbicara
dan membaca lebih lambat untuk menyerap semuanya.
c.
Kinestetik
Melakukan sesuatu dengan fisik, atau paling tepat digambarkan sebagai belajar sambil melakukan (learning by doing), baik sebagai aktivitas langsung atau melalui pengalaman, atau dengan bergerak sambil berpikir atau belajar.
v Contoh Keragaman Pembelajaran Berdiferensiasi
Arif
Arif adalah seorang siswi SMA Negeri kelas 2. Ia terlahir dari keluarga berada dan berpendidikan. Ayahnya adalah keturunan Belanda sementara Ibunya adalah keturunan Indonesia asli. Ia adalah anak sulung dari 3 bersaudara.
Jika Arif berada di rumah, Ia mempunyai tanggung jawab untuk mengasuh kedua adiknya, yaitu kelas 2 SD dan kelas 4 SD. Setiap ke sekolah Ia di antar jemput oleh ayah/ibunya atau kadang pulang sendiri dengan menggunakan kendaraan aplikasi, dan ia merasa senang akan itu. Ia terbiasa bertemu dengan banyak orang, misalnya rekan bisnis ayah/ibunya, bertemu dengan teman dan guru les musiknya, sering pulang pergi Indonesia-Belanda untuk mengunjungi keluarga dari Ayahnya, dan masih banyak lagi yang memungkinkan Arif berinteraksi dengan banyak orang.
Walaupun
berkecukupan, namun Ayah/Ibunya mengajarkan kemandirian sejak dini, sehingga ia
terbiasa mandiri, misalnya saja ia terbiasa dengan pekerjaan rumah, seperti
mencuci piring setelah makan, menyapu, dan mengepel kamarnya, sehingga Arif
terbiasa dengan hidup bersih dan mandiri.
Sampai usia 17 tahun, Arif memiliki dwi kewarganegaraan yaitu Indonesia dan Belanda, dan setelah itu karena Ibu Arif keturunan Indonesia, maka Arif harus memilih kewarganegaraan, apakah Belanda atau Indonesia. Tentunya Arif memiliki pandangan terhadap budaya dan sosial yang berbeda, belum lagi ditambah dengan ideologi yang dianutnya dan juga hukum masyarakat, dan juga budaya politik yang berbeda pula. Itu terbentuk sejak ia lahir sampai seusianya.
Bagus
Bagus
adalah seorang siswa kelas 2 SMA Negeri yang sekelas dengan Arif. Ia tergolong
dari keluarga biasa saja. Ia adalah anak semata wayang. Ayah dan Ibunya
keduanya berkebangsaan Indonesia bersuku madura dan jawa. Ada 2 sepupu yang
ikut tinggal di rumahnya.
Sepulang
sekolah Bagus membantu Ayah dan Ibunya yang bekerja mengelola sebuah toko sayur
di pasar tradisional. Bagus banyak bertemu dengan banyak orang, seperti pembeli
sayur langganannya, kuli panggul pasar, mitra ayah ibunya di pasar. Ayah dan
ibu Bagus sibuk sekali dengan jualannya di pasar, apalagi jika menjelang Idul
Fitri dan tahun baru, mereka sesekali mengantarkan sayuran untuk bapak dan ibu
guru ke sekolah.
Sepulang
sekolah Bagus terbiasa membantu ayah dan ibunya berjualan sayur di pasar.
Keberadaannya di rumah hanya ada saat malam hari, yaitu sepulang dari lapak
miliknya dan itupun terkadang ayah dan ibunya masih berada di lapak, ayah
ibunya pulang ke rumah saat siang hari saja. Kondisi rumah yang kadang berantakan
membuat ia lelah untuk meneruskan belajar. Dan baginya berantakan atau tidak
sama saja, karena ia terbiasa melihat kehidupan pasar.
Pada rentang waktu yang cukup lama, kehidupan Bagus dan keluarganya, tentunya mempunyai pandangan tersendiri terhadap lingkungan, kehidupan sosial dan budaya dan sekitarnya. Sehingga membentuk pribadi diri Bagus.
Kaesang
Kaesang
adalah seorang siswa SMA Negeri Kelas 2 yang merupakan teman sekelas Arif dan
Bagus. Ia berasal dari keluarga yang sederhana dan berkecukupan. Ia adalah anak
bungsu dari 2 bersaudara. Adiknya sedang bersekolah di SMP Negeri 1 di kotanya.
Ayahnya bekerja sebagai pejabat pemerintah di kotanya dan ibunya adalah seorang
Aparatur Sipil Negara di Sekolah dekat rumahnya. Ayah dan ibunya adalah
keturunan Indonesia dan berasal dari suku Jawa.
Setiap
hari Kaesang dan adiknya berangkat sekolah bersama Ayah dan Ibunya. Tetapi,
pada saat pulang sekolah Kaesang Harus menjemput adiknya terlebih dahulu
sebelum pulang ke rumah. Hal ini dikarenakan Ayah dan Ibu mereka pulang pada
sore hari. Mereka hanya berkumpul bersama pada saat makan malam dan sarapan
pagi. Hari sabtu dan minggu merupakan waktu yang rutin mereka gunakan untuk
berkumpul bersama.
Hal tersebut membentuk Kaesang menjadi anak yang mandiri, bertanggung jawab dan menghargai waktu. Hari-hari yang dilalui oleh Kaesang membentuk karakter pada dirinya dan mempunyai pandangan tersendiri terhadap lingkungannya. Kehidupan sosial, budaya dan linkungan sekitarnya membentuk pribadi diri Kaesang.
Contoh
kelas yang menerapkan pembelajaran berdiferensiasi adalah ketika proses
pembelajaran guru menggunakan beragam cara agar murid dapat mengeksploitasi isi
kurikulum, guru juga memberikan beragam kegiatan yang masuk akal sehingga murid
dapat mengerti dan memiliki informasi atau ide, serta guru memberikan beragam
pilihan di mana murid dapat mendemonstrasikan apa yang mereka pelajari. Contoh
kelas yang belum menerapkan pembelajaran berdiferensiasi adalah guru lebih
memaksakan kehendaknya sendiri. Guru tidak memahami minat, dan keinginan murid.
Kebutuhan belajar murid tidak semuanya terenuhi karena ketika proses
pembelajaran menggunakan satu cara yang menurut guru sudah baik, guru tidak
memberikan beragam kegiatan dan beragam pilihan.
Pemetaan
kebutuhan belajar merupakan kunci pokok kita untuk dapat menentukan langkah
selanjutnya. Jika hasil pemetaan kita tidak akurat maka rencana pembelajaran
dan tindakan yang kita buat dan lakukan akan menjadi kurang tepat. Untuk
memetakan kebutuhan belajar murid kita juga memerlukan data yang akurat baik
dari murid, orang tua/wali, maupub dari lingkungannya. Apalagi dimasa pandemi
seperti ini, dimana murid melaksanakan PJJ sehingga interaksi secara langsung
antara guru dengan murid sangat jarang. Akibatnya data yang kita kumpulkan
untuk memetakan kebutuhan belajar murid sulit kita tentukan valid atau
tidaknya. Dukungan dari orang tua dan murid untuk memberikan data yang lengkap
dan benar sesuai kenyataan yang ada. Tidak ditambahi dan juga tidak dikurangi.
Orang tua dan murid harus jujur ketika guru melakukan pemetaan kebutuhan
belajar, baik elalui wawancara, angket, survey, dll.
Penerapan
pembelajaran berdiferensiasi akan memberikan dampak bagi sekolah, kelas, dan
terutama kepada murid. Setiap murid memiliki karakteristik yang berbeda-beda, tidak
semua murid bisa kita beri perlakuan yang sama. Jika kita tidak memberikan
pelayanan sesuai dengan kebutuhan murid maka hal tersebut dapat menghambat
murid untuk bisa maju dan berkembang belajarnya. Dampak dari kelas yang
menerapkan pembelajaran berdiferensiasi antara lain; setiap orang merasa
disambut dengan baik, murid dengan berbagai karakteristik merasa dihargai,
merasa aman, ada harapan bagi pertumbuhan, guru mengajar untuk mencapai
kesuksesan, ada keadilan dalam bentuk nyata, guru dan murid berkolaborasi,
kebutuhan belajar murid terfasilitasi dan terlayani dengan baik. Dari beberapa
dampak tersebut diharapkan akan tercapai hasil belajar yang optimal.
Pembelajaran
berdiferensiasi sangat berkaitan dengan filosofi pendidikan menurut Ki Hajar
Dewantara, nilai dan peran guru penggerak, visi guru penggerak, serta budaya
positif. Salah satu filosofi pendidkan menurut Ki Hajar Dewantara adalah sistem
“among”, guru harus dapat menuntun murid untuk berkembang sesuai dengan
kodratnya, hal ini sangat sesuai dengan pembelajaran berdiferensiasi. Salah
satu nilai dan peran guru penggerak adalah menciptakan pembelajaran yang
berpihak kepada murid, yaitu pembelajaran yang memerdekakan pemikiran dan
potensi murid. Hal tersebut sejalan dengan pembelajaran berdiferensiasi. Salah
satu visi guru penggerak adalah mewujudkan merdeka belajar dan profil pelajar
pancasila, untuk mewujudkan visi tersebut salah satu caranya adalah dengan
menerapkan pembelajaran berdiferensiasi. Budaya positif juga harus kita bangun
agar dapat mendukung pembelajaran berdirensiasi.
Daftar Pustaka
Fitra, D. K. (2022). Pembelajaran Berdiferensiasi dalam Perspektif
Progresivisme pada Mata Pelajaran IPA. Jurnal Filsafat Indonesia, Vol 5
No 3, 250-258.
Herwina,
W. (2021). Optimalisasi Kebutuhan Siswa dan Hasil Belajar dengan Pembelajaran
Berdiferensiasi. Perspektif Ilmu Pendidikan, 175-182.









Tidak ada komentar:
Posting Komentar